Rabu, 13 Juli 2011

Pelacuran Ditutup, Mucikari Diberi Tenda PKL

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Di kawasan alun-alun sisi selatan inilah, akan dibangun tenda PKL buat mucikari sebagai kompensasi menutup warung remang-remangnya.

Probolinggo (News Today) - Menjelang datangnya bulan Ramadhan, pihak Kecamatan Kraksaan berupaya agar wilayahnya bersih dari pekerja seks komersial. Sebagai langkah nyata, warung-warung yang berfungsi ganda sebagai tempat lokalisasi di kawasan Sampitan, Desa Asembagus, yang dikenal dengan kawasan Sukroan, akan ditutup. Penutupan lokalisasi legendaris di Kraksaan itu tak hanya selama Ramadhan, tetapi untuk selamanya. "Per 1 Ramadhan, lokalisasi itu ditutup hingga selamanya," tegas Camat Kraksaan, Sugito, Selasa (12/7/2011).

Sukroan memang berada sejak puluhan tahun lalu. Kawasan yang berada di atas sungai besar, tepatnya di belakang Universitas Zainul Hasan Genggong, itu menjadi tempat favorit para lelaki hidung belang. Lantaran sering dirazia, saat ini warung remang-remang di sana tinggal tujuh buah.

Menjual aneka minuman dan makanan ternyata hanya kedok bisnis prostitusi. Di belakang warung itu disediakan kamar untuk disewakan. Jika pelanggan sedang ramai, tak jarang lelaki dan PSK "beraksi" di pinggir sungai beralaskan tikar. Jumlah PSK yang menetap di sana hanya 18 orang, kebanyakan dari luar Kabupaten Probolinggo meski ada juga yang dari Kecamatan Krucil dan Tiris.

Namun, jumlah itu diyakini Sugito jauh lebih banyak karena PSK berdatangan silih berganti di lokalisasi tersebut. Jumlah PSK tiap malam di sana tak tentu, bergantung pesanan. Jika permintaan pelanggan banyak, para PSK bisa didrop dari luar kota dengan diangkut truk.

Sugito mengaku kerap dilanda kekhawatiran tatkala menggelar razia di sana. Pasalnya, para PSK yang dirazia kerap berbuat nekat untuk lari dari kejaran petugas. Beberapa waktu lalu, kata Sugito, ada PSK yang nekat meloncat ke sungai yang besar demi menghindari razia. "Yang lebih ngeri lagi jika merazia lokalisasi di pinggir jalan raya. Bisa saja PSK yang lari ketakutan dari kejaran petugas tidak melihat kendaraan yang melintas sehingga terjadi kecelakaan," ungkapnya.

Atas alasan itu, untuk menumpas pelacuran tanpa jatuh korban jiwa, Sugito mencoba cara yang lebih damai dengan mendatangkan tujuh mucikari pemilik warung dan berdialog dengan muspika, tokoh agama, dan masyarakat di pendapa kecamatan. Hasilnya lumayan, ketujuh mucikari yang juga pemilik warung itu siap menutup warungnya dan kembali ke jalan yang benar. "Para mucikari yang warga Kraksaan itu sepakat menutup warungnya. Penutupan Sukroan sudah harga mati," katanya.

Tak sekadar menutup. Sugito yang merasa bertanggung jawab atas ditutupnya lokalisasi itu mencarikan kompensasi bagi tujuh mucikari untuk menyambung hidup. Kompensasinya, mereka akan diberikan fasilitas tenda pedagang kaki lima (PKL) untuk berjualan di sisi selatan alun-alun Kraksaan, persis di pinggir jalur pantai utara. Hingga kini, tenda itu sedang dibuat dan akan selesai sebelum 1 Agustus.

Selanjutnya, pihak kecamatan akan membersihkan warung remang-remang di Pasar Semampir. Serupa dengan Sukroan, di wilayah ini pun bisa ditemukan warung remang-remang yang menyediakan PSK. "Nanti kami razia dan diminta ditutup saat Ramadhan," tegasnya.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 14 Jul, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/07/pelacuran-ditutup-mucikari-diberi-tenda.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar