Minggu, 10 Juli 2011

Lereng Merapi Sisi Selatan Berbahaya

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Tiang beton yang baru saja dipasang untuk memperkuat pondasi Jalan Yogyakarta-Magelang, Desa Jumoyo, Salam, Magelang, Jawa Tengah, menjadi miring akibat diterjang banjir lahar dingin Merapi, Jumat (4/2/2011).

Yogyakarta, Indonesia (News Today) - Lereng Gunung Merapi sisi selatan di Kabupaten Sleman, yang termasuk Kawasan Rawan Bencana III, merupakan daerah yang sangat berbahaya untuk dihuni. Erupsi Merapi yang terjadi pada Oktober dan November 2010 telah mengubah kondisi morfologi puncak gunung tersebut.

Hal itu dikatakan Kepala BPPTK Yogyakarta Subandriyo ketika mendampingi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X saat berdialog dengan warga korban erupsi Merapi, baik di shelter Plosokerep, maupun shelter Kuwang, Sleman, Selasa, (5/7/2011).

"Akibat letusan Oktober-November lalu, di puncak Merapi terbentuk kubah baru dengan diameter 500 meter dan membuka selebar 400 meter ke arah Selatan," kata Subandriyo.

Menurut Subandriyo, berdasarkan karakteristik Merapi, arah letusan berikutnya biasanya mengikuti arah kubah yang sudah terbentuk tersebut. Artinya, bila terjadi letusan kembali, awan panas dan guguran material akan mengarah ke selatan.

Subandriyo lebih lanjut mengatakan, bila letusannya normal, maka jarak luncur awan panas biasanya akan mencapai 8 kilometer dan umumnya akan mengikuti aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi. Namun, pascaerupsi tahun 2010, kawasan Selatan Merapi kini sudah tidak ditumbuhi pepohonan lagi. Baik lembah-lembah maupun jurang pun sudah tertimbun pasir material Merapi.

"Jadi kondisinya ibarat jalan tol. Tidak ada lagi hambatan ketika awan panas meluncur ke bawah. Besar kemungkinan jarak luncurnya akan semakin jauh," kata Subandriyo.

Subandriyo mengingatkan bahwa jika pada masa mendatang terjadi letusan lagi, maka letusan tersebut akan sangat berbahaya karena luncuran awan panas akan lebih cepat, jarak luncur lebih jauh, dan luncuran akan membawa material padat dari Merapi dengan suhu sampai di tanah bisa 600 derajat celsius.

Subandriyo juga mengatakan, kubah Merapi sebelumnya mengarah ke barat dan barat daya. Kubah itu terbentuk akibat letusan Merapi sekitar tahun 1930 dan 1931. "Sejak tahun 1930 hingga tahun 2010, setidaknya Merapi pernah meletus sebanyak 20 kali, dan 90 persen arah awan panas mengikuti kondisi kubah, yaitu ke arah barat daya," kata Subandriyo.

Gunung Merapi merupakan gunung yang sangat aktif. Berdasarkan data yang diungkapkan Subandriyo, sejak tahun 1780 sampai tahun 2010, Merapi telah meletus sebanyak 100 kali. Jarak waktu antarletusan juga tidak menentu. Pernah hanya berjangka 2 tahun, dan pernah juga berjangka 18 tahun.

Dengan kondisi ini, kata Subandriyo, perlu dilakukan mitigasi yang terukur untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan harta bila Merapi meletus lagi. "Yang pasti, mitigasi melalui pencegahan tak mungkin dilakukan karena sampai saat ini tidak ada teknologi yang bisa dipakai untuk mengubah struktur Merapi yang terbentuk akibat erupsi Merapi, termasuk erupsi 2010. Yang bisa dilakukan hanya melalui pengurangan dampak bencana. Salah satunya dengan tidak menjadikan kawasan rawan bencana III Merapi menjadi tempat hunian tetap," papar Subandriyo.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 11 Jul, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/07/lereng-merapi-sisi-selatan-berbahaya.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar