Senin, 04 Juli 2011

Menjadi Raksasa di "Negeri" Madurodam

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Miniatur bangunan penting dan bersejarah yang ada di Belanda dapat dilihat di Madurodam. Semua gedung dan rincian lain dibangun 25 kali lebih kecil dari ukuran aslinya di area seluas 18.000 meter persegi.

(News Today) - INGIN tahu bagaimana rasanya menjadi raksasa di negeri liliput? Pengalaman menjadi raksasa seperti yang dirasakan Gulliver dalam kisah fiksi Petualangan Gulliver di Negeri Liliput karya penulis Irlandia, Jonathan Swift.

Bila jawabannya ya, datang saja berwisata ke kawasan Madurodam di Den Haag, Belanda. Di lahan seluas 18.000 meter persegi itu terdapat sedikitnya 200 miniatur bangunan yang ada di semua kota di Belanda.

Semua bangunan miniatur itu merepresentasikan sebagian wilayah penting di Belanda. Ukurannya sengaja dibuat 25 kali lebih kecil dibanding bangunan aslinya. Contohnya, miniatur Menara Bandar Udara Schipol, Amsterdam, yang tingginya hanya empat meter.

Dengan ukuran miniatur seperti itu, orang bisa melihat Belanda dari sudut pandang seekor burung yang terbang, bird's eye view. Sebagian besar bangunan miniatur dibuat dari bahan sintetis, kecuali kawasan hijau dengan pepohonan dan semak-semak yang berasal dari tanaman asli.

Tanaman itu mendapat perawatan khusus untuk mempertahankan bentuk dan ukurannya. Secara berkala seluruh tanaman itu dipotong supaya tingginya tidak lebih dari 60 sentimeter. Sebanyak 35 orang dipekerjakan untuk merawat tanaman dan bangunan miniatur di Madurodam.

Tidak hanya miniatur bangunan, seluruh isi kota, seperti miniatur boneka orang yang tengah beraktivitas, kendaraan, kapal, pesawat, dan kereta api beserta sistem transportasinya, lengkap dibangun di Madurodam. Bahkan, miniatur manusia di setiap bangunan ditata seperti tengah berkegiatan sehari- hari.

Seperti di miniatur pasar keju Alkmaar, pekerja pabrik keju menata produksi mereka di lapangan dengan ditonton oleh banyak orang. Atau prosesi resmi kerajaan di depan gedung miniatur Parlemen Belanda, lengkap dengan kereta kuda kerajaan dan para prajurit yang berbaris rapi. Juga kesibukan sehari-hari orang-orang di kawasan belanja atau stasiun kereta api.

Untuk beberapa koleksi bangunan miniatur, pengunjung dapat melihat orang-orangan atau kendaraan itu bergerak dan mengeluarkan bunyi atau lagu yang biasa terdengar di tempat aslinya, dengan memasukkan koin logam 10 sen euro.

Beberapa koleksi bangunan klasik lain juga ada di Madurodam. Sebut saja Menara Katedral Dom yang bangunan aslinya ada di Utrecht, Gedung Parlemen Belanda Het Binnenhof yang aslinya dibangun di Den Haag, Kanal Heengracht di Amsterdam, dan Istana Kerajaan di Lapangan Dam di Amsterdam.

Tidak hanya miniatur bangunan "jadul" alias zaman dulu, kompleks miniatur Madurodam ini juga memiliki koleksi bangunan-bangunan modern, seperti kompleks perumahan modern di Harleem, Stasiun KA Blaak di Rotterdam, kantor pusat Unilever di Rotterdam, hingga Bandara Schiphol di Amsterdam. Boleh dibilang, dengan datang ke Madurodam seolah orang sudah "berkeliling" ke seluruh Belanda.

Sejarah

Awalnya, kawasan wisata ini dibangun sebagai lokasi peringatan Perang Dunia II sekaligus untuk menghormati salah seorang pejuang Belanda, George Maduro. Maduro tewas pada 9 Februari 1945 sebagai tawanan perang di kamp konsentrasi Dachau, di Munchen, Jerman bagian selatan.

Kawasan wisata Madurodam dibuka secara resmi pada tahun 1952. Kompleks miniatur ini bahkan memiliki wali kota yang ditunjuk resmi.

Hingga penobatannya sebagai ratu pada tahun 1980, Ratu Beatrix sempat menjadi wali kota di sini. Tugas wali kota Madurodam adalah memimpin dan meresmikan model miniatur baru yang ditambahkan dalam kompleks ini, sekaligus membuka ekshibisi resmi rutin.

Koleksi bangunan miniatur di Madurodam memang terus bertambah, misalkan bangunan miniatur Museum Mauritshuis, Den Haag, yang diperbarui pada tahun 1997, bangunan miniatur City Hall di Roermond yang diperbarui dua kali, tahun 1982 dan 1995.

Selain itu, miniatur gedung seni dan pertunjukan Circus Theatre, Den Haag, juga dibangun untuk melengkapi koleksi Madurodam pada tahun 2004, bersamaan dengan peringatan 100 tahun bangunan aslinya.

Harga tiket masuk kompleks miniatur Madurodam itu memang tidak bisa dibilang murah untuk ukuran kocek kebanyakan orang Indonesia. Apalagi harganya dipatok dalam mata uang euro yang nilai tukarnya terhadap rupiah jauh lebih tinggi ketimbang dollar AS. Hanya bayi di bawah usia dua tahun yang boleh masuk gratis. Adapun anak-anak usia 3 sampai 11 tahun harga tiket masuknya sebesar 10,5 euro, di atas usia 12 tahun 14,5 euro, dan usia 65 tahun ke atas harga tiketnya 13,5 euro.

Untuk mencapai kompleks wisata ini dengan kendaraan umum di Den Haag tidaklah sulit. Tepat di seberang Madurodam terdapat halte pemberhentian tram nomor 9 dan bus nomor 22.

Jadi, kalau ingin tahu bagaimana rasanya jadi raksasa, silakan datang ke sana.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 05 Jul, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/07/menjadi-raksasa-di-negeri-madurodam.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar