Kamis, 30 Juni 2011

20 Persen Penumpang KRL Tanpa Karcis

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Sabtu (18/6/2011). Hari ini, PT KRL Commuter Line melakukan uji coba penerapan KRL Commuter Line yang secara resmi akan dimulai pada 2 Juli 2011. Penerapan ini menghapuskan KRL Ekspres sehingga hanya memiliki dua jenis kereta, yaitu KRL Ekonomi dengan harga tiket Rp 2.000 dan KRL Commuter Line dengan harga tiket Rp 9.000.

Jakarta, Indonesia (News Today) - Selama ini, diperkirakan sejumlah 20 persen penumpang KRL Jabodetabek, khususnya kelas ekonomi, tidak membeli karcis. Hal ini diungkapkan oleh anggota Ikatan Insan Perkeretaapian Indonesia, Hendrowijono, ketika memberikan paparan dalam diskusi "Kereta Api untuk Rakyat" di Hotel Millenium, Jakarta, Senin (27/6/2011).

"Sebenarnya, jumlah penumpang KRL mencapai 500.000 per hari. Hanya saja, 20 persen atau 100.000 tidak beli karcis. Jadi, yang tercatat hanya 400.000 orang," kata Hendro.

Dalam diskusi ini, turut hadir pula Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Nugroho Indrio dan Vice President Pemasaran Angkutan Penumpang PT KAI Husein Nuroni.

Menurut Hendro, tingkat pengawasan dari operator sangat lemah sehingga banyak penumpang yang akhirnya naik tanpa karcis. Hal ini juga disebabkan banyaknya stasiun yang tidak steril dan penumpang yang terlalu padat sehingga kondektur sulit melakukan pengawasan.

"Sekadar menambah jumlah kereta, lokomotif, dan jadwal perjalanan tidak akan menyelesaikan masalah. Justru malah memunculkan masalah baru," kata Hendro.

Hendro menyarankan agar semua gagasan tersebut juga dibarengi dengan meninggikan jalur kereta api dibanding lingkungan. Hal ini agar jalur kereta api tidak lagi selevel dengan kawasan kegiatan masyarakat, baik berupa permukiman maupun kegiatan ekonomi sehingga kereta api dapat berfungsi optimal.

Pertumbuhan kegiatan masyarakat dan permukiman yang tinggi, tegasnya, menyebabkan gangguan operasional dan berdampak pada korban kecelakaan kereta api.

Namun, solusi semacam ini membutuhkan peran aktif pemerintah daerah dan pemerintah pusat. "Tanpa membuat steril operasional kereta api, baik di stasiun maupun di jalurnya, mustahil mencapai target yang ditetapkan," tandasnya.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 30 Jun, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/06/20-persen-penumpang-krl-tanpa-karcis.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar