Jumat, 24 Juni 2011

Mereka Mengusir Kita, Kok Dirayakan

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Ridwan Saidi, budayawan dan sejarawan Betawi (kanan) serta Batara Hutagalung, peneliti sejarah dalam diskusi terbatas bertajuk Kontroversi HUT Jakarta di Fadli Zon Library, Jl. Limboto C.2, Pejompongan, Jakarta, Rabu (22/6/2011).

Jakarta, Indonesia (News Today) - Penetapan Hari Jadi Kota Jakarta pada 22 Juni yang sesuai dengan tanggal penamaan Jayakarta oleh Fatahillah mengundang polemik. Salah seorang yang menolak penggunaan tanggal kemenangan pasukan Fatahillah atas Portugis pada tahun 1527 itu sebagai hari jadi DKI Jakarta adalah Ridwan Saidi.

"Mereka membakar rumah kami (penduduk Sunda Kelapa), mengusir kami sehingga kami harus menyingkir ke balik-balik bukit. Kok malah dijadikan hari jadi kota?" kata Ridwan, budayawan sekaligus sejarawan Betawi, dalam diskusi terbatas "Kontroversi HUT Jakarta' di Fadly Zon Library, Pejompongan, Jakarta, Rabu (22/6/2011).

Ridwan menganggap leluhur Betawi yang menjadi penghuni Sunda Kelapa (Teluk Kelapa) saat itu menjadi orang yang dianiaya akibat penyerbuan Fatahillah. Oleh sebab itu, hari tersebut tidak dapat dirayakan sebagai Hari Jadi DKI Jakarta.

Ridwan juga menyoroti nama Jayakarta. Nama yang merupakan asal muasal nama Jakarta tersebut bukanlah nama baru yang diberikan Fatahillah.

"Nama Jayakarta sudah ada sejak lama. Ada desa di Karawang yang namanya Jayakerta yang merupakan wilayah budaya Betawi. Itu sudah ada sejak zaman Siliwangi," kata Ridwan.

Dia menjelaskan, Jayakerta adalah tempat pembuangan salah satu istri Prabu Siliwangi. Di tempat tersebut, istrinya melahirkan seorang putra yang kemudian meninggal dunia. Untuk memperingati kematian putranya, dia menamai tempat tersebut dengan sebutan Jayakerta (kemenangan yang jaya).

"Jadi, nama Jayakerta bukan diberikan oleh Fatahillah. Itu nama yang sudah ada sebagai sebutan lain Sunda Kalapa," ujar Ridwan.

Sebagai penduduk asli Jakarta, Ridwan mengungkapkan, pemilihan tanggal 22 Juni 1527 sebagai hari lahir kota Jakarta adalah penghinaan lantaran orang-orang Betawi harus mengalami kerugian oleh para penyerang dari Demak.

Dia secara pribadi sudah mempermasalahkan penetapan itu sejak 2006. "Namun, saya tidak ingin berpolemik dengan pemerintah. Kecuali jika mereka bisa menghadirkan ahli yang bisa membantah pendapat saya. Saya lebih ingin masyarakat paham akan sejarah yang sebenarnya," kata Ridwan.

Diskusi yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Jadi DKI Jakarta itu turut dihadiri dua pembicara lain. Mereka adalah Batara Hutagalung, peneliti sejarah sekaligus anggota Komite Nasional Pembela Martabat Bangsa Indonesia, dan JJ Rizal, sejarawan muda dari Komunitas Bambu. Keduanya memiliki pendapat senada dengan Ridwan Saidi bahwa penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari jadi Ibu Kota kurang tepat.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 24 Jun, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/06/mereka-mengusir-kita-kok-dirayakan.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar