Jumat, 03 Juni 2011

"Nasib Pahlawan Olahraga Memprihatinkan"

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Jakarta, Indonesia (News Today) - Seorang atlet hanya dikenang ketika dia meraih prestasi dan mengharumkan nama bangsa. Setelah masa kejayaannya berlalu, nasib sang pahlawan negara tersebut tak mendapat perhatian lagi, bahkan disia-siakan. Itulah kenyataan yang harus dihadapi para olahragawan, meskipun mereka seharusnya pantas mendapatkan penghargaan atas jasa-jasanya tersebut.

Lantaran prihatin dengan apa yang terjadi pada dunia olahraga Indonesia, dibentuklah Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI) yang berusaha "menggelitik" semua orang agar mau memperhatikan nasib atlet. Pasalnya, jika mereka (atlet) ditelantarkan, maka akan memberikan dampak negatif terhadap minat generasi muda untuk menjadi olahragawan.

"Banyak pahlawan olahraga yang dulunya berjasa mengharumkan nama bangsa, tetapi sekarang hidupnya sangat memprihatinkan. Selain perlu dukungan moril maupun materiil, pemberdayaan perlu dilakukan agar kualitas kehidupan mereka menjadi layak. Kita harus mendukung mantan olahragawan, demi kemajuan olahraga Indonesia," jelas Rudy Hartono, selaku Dewan Pengawas YOI.

Rudy, yang mengukir prestasi di arena bulu tangkis karena pernah jadi juara All England sebanyak delapan kali, juga memberikan contoh para olahragawan yang terlupakan.

"Sebagian besar masyarakat di Tanah Air sudah melupakan nama Nanda Telambanua, pemecah rekor angkat berat dunia junior 1984, yang sempat mencari nafkah sebagai penarik ojek. Begitu juga dengan Martha Kase, peraih medali emas nomor lari SEA Games 1987 yang kini mengais rezeki hanya sebagai penjual teh botol. Peraih juara dunia tinju (IBF), Ellyas Pical, terpaksa sempat menjadi satpam diskotik di masa pensiunnya. Namun berkat uluran tangan mantan Menpora Adhyaksa Dault, mantan juara dunia itu kini diarahkan bekerja di kantor KONI/KOI," tambahnya.

Padahal, para olahragawan yang berprestasi itu pernah mengibarkan bendera Merah-putih di luar negeri. Bukan hal baru jika ada pernyataan bahwa Merah-Putih bisa berkibar di negara lain hanya karena ada dua momen, yaitu pertama saat kunjungan Presiden RI keluar negeri dan kedua saat olahragawan meraih prestasi puncak dengan menyumbang medali emas bagi Indonesia. Jadi, para olahragawan pantas diperhatikan.

"Lagu Indonesia Raya berkumandang dan Merah-Putih berkibar saat para mantan olahragawan itu mengukir tampuk juara. Hal itu tentunya yang harus kita ingat dan mereka harus mendapat penghidupan yang layak."

"Kehidupan mantan olahragawan sekarang ini dapat berdampak terhadap generasi muda bangsa Indonesia. Kehidupan ekonomi mereka yang memprihatinkan dapat memengaruhi persepsi mereka terhadap olahraga di Indonesia. Nantinya, ditakutkan generasi muda bangsa ini tidak lagi menaruh minat untuk menjadi olaharagawan. Seharusnya para mantan olahragawan dapat menjadi inspirator bagi generasi muda Indonesia."

"Dukungan dari kita semua sangat besar andilnya terhadap pembangunan olahraga di Indonesia, salah satunya, kini hadir Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI), di mana YOI bertujuan untuk membangun karakter Bangsa Indonesia yang unggul, serta secara khusus peduli pada nasib para olahragawan maupun mantan olahragawan Indonesia," ujar Rudy yang menambahkan, menjelang SEA Games ini perlu digalakkan kepedulian terhadap nasib olahragawan untuk memacu semangat olahraga demi mewujudkan tekad Indonesia juara.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 04 Jun, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/06/nasib-pahlawan-olahraga-memprihatinkan.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar