Minggu, 29 Mei 2011

Taj Mahal Tutup Hari Jumat

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
(News Today) - Matahari pagi sedang indah-indahnya di pukul 08.20 pagi. Kereta api yang kami tumpangi ternyata melaju lebih cepat hingga membawa kami sejam lebih awal tiba di Stasiun Agra Cantt. Seperti biasa, kami disambut riuh oleh para sopir bajaj yang nampak antusias menawarkan jasanya. Sambil menikmati hangat mentari, kami asyik melakukan penawaran hingga ke titik paling murah, seorang sopir berkulit hitam legam, bermata pekat dengan ramah membantu kami memasukkan backpack kami ke sisi jok belakang, tentunya setelah setuju dengan harga sebesar 55 rupees, menuju Agra Ganj, dimana sederet akomodasi telah menunggu kedatangan kami.

Mata rantai bisnis di India nampak sekali berkembang pesat, hampir setiap sopir bajaj yang kami temui selalu menawarkan sederet kartu nama hotel dari mulai hotel mewah hingga berbudget. Begitu juga yang dilakukan sopir bajaj ini, dengan beberapa penjelasan lokasi dan area nya ia berusaha membawa kami ke beberapa hotel rekomendasinya. Awalnya hotel seharga 800 hingga 1.200 rupees ditawarkannya kepada kami, konon karena ia menganggap kami turis kaya asal Jepang.

Yah, begitulah Jepang ternama sebagai "Turis pemurah hati sedunia", banyak anggapan status turis Jepang selalu punya modal jauh lebih besar untuk berwisata. Tak heran, dengan wajah kami yang terlalu oriental, setiap kali kami bepergian ke negara manapun selalu mendapat gelar pertama "Japanese" sebelum akhirnya kami misuh-misuh dan mengatakan kami "Indonesian".

Melatarbelakangi judul perjalanan ini adalah "Berbackpacking" sudah barang tentu kami memilih tinggal di akomodasi tingkat paling sederhana selama perjalanan. Bermodal sebuah kitab perjalanan paling top, kami memilih SAH Hotel di areal Agra Ganj. Masih dengan senyum ramah sopir itu mengantar kami hingga ke lobby hotel. Suasana sunyi masih lekat di dalam hotel, wajar, karena umumnya seluruh kegiatan di negara ini di mulai pukul 10 atau 11 menjelang siang, bahkan sistem waktu kerja mereka distandarkan sedemikian rupa.

Standardisasi waktu beraktivitas negara ini memang cukup beralasan, konon bukan karena mereka malas bangun pagi, itu lebih dikarenakan mereka menggunakan waktu pagi mereka untuk memulai hari dengan melakukan ritual keagamaan, agar aktivitas mereka mendapat berkah. Walau pada kenyataannya, tak semua budaya ini benar, banyak kalangan yang bukan praktisi keagamaan menggunakannya untuk menambah waktu tidur mereka, alias bermalas-malasan.

Anyway, hotel ini terlihat sangat "homey" ornamen dan gaya arsitektur bangunannya lebih hangat seperti rumahan. Terdapat beberapa kamar dengan fasilitas menurut kelas dan harganya, sebuah kamar dengan fasilitas AC dikhususkan di lantai atas, okenya hotel "Homey" ini dilengkapi dengan fasilitas internet cafe di lantai bawah. Sayang waktu kami datang, kamar seharga 250 Rupees yang kami maksud sudah full, hanya satu kamar tersisa seharga 200 rupees, tidak terlalu mencolok memang perbedaannya, kami memperhatikan lebih kepada kebersihannya yang tentu tidak sebanding dengan harga 250 rupees.

Terpaksa saja, kami menerima, dengan ketentuan lain untuk menunggu kamar kosong dari para tamu yang check out siang ini. Tak ingin lama-lama di kamar yang penuh dengan karat ini, kami segera mandi dan menuju restoran yang terletak di rooftop hotel, terdengar eksklusif dari cara penempatannya. Terang saja, sebuah pemandangan takjub dari Kubah Taj Mahal tergolek jelas di pelupuk mata lewat restoran dengan sofa-sofa yang sudah mulai reot. Rasa Noodlle Biryani dan nasi goreng yang hambar itu jadi terasa sedap di temani pemandangan Taj Mahal, kami jadi tak sabar untuk segera memasuki kemegahannya.

Berhubung kedatangan kami tepat di hari Jumat, dan Taj Mahal menutup umum pintu-pintunya menyambut "Jumatan". Agenda kami hari ini hanya mengunjungi daerah sekitar Agra Ganj yang sibuk dipenuhi sapi, anjing dan kambing-kambing liar yang berkeliaran dimana-mana. Apalagi masalah listrik yang setiap harinya menjadi hal "giliran" di hotel ini, membuat kami tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk mengecek email kami harus pergi ke internet cafe lainnya di luar hotel.

Kami penasaran dengan kemegahan Taj Mahal ini, alih-alih kami berharap ada space untuk masuk atau mengintai kegiatan "Jumatan" mereka hari ini, kami segera menyusur ke gang-gang kecil sepanjang Agra Ganj, beberapa gate kami temui, salah satunya pintu kecil di west gate, yang menjadi satu-satunya akses masuk bagi para umat Muslim untuk melaksanakan sholat Jumat di Masjid Taj. Orang-orang berbadan kekar memakai kopiah berkostum putih nampak riuh mengantre di pintu tersebut, wanita bercadar hitam nampak banyak yang keluar dan menjauh dari pintu. Kami mencoba mengamati orang-orang sekitar, sebelum akhirnya kami sadar kami lah yang jadi bulan-bulanan perhatian mata mereka.

Kami segera melintas ke gate yang lainnya, beberapa toko souvenir nampak masih buka dan dengan ramah menawarkan hasil kerajinannya yang khas dengan "Marble Taj", dari mulai ukuran mini hingga dengan ukiran yang menawan. Kami masuk di ujung jalan Agra Ganj, mencoba mencari gate lain yang nampak masih di jaga ketat oleh para pasukan berseragam kepolisian, seorang penjaga jelas melarang kami masuk ketika kami mencoba berpura-pura bodoh tidak mengetahui peraturan hari Jumatnya Taj Mahal.

Menyerah

Diantara terik matahari yang gersang menyelimuti kota ini, kami kembali ke jalan pulang dan menemukan Cafe Coffee Day di dekat south gate, kontan saja kami singgah dan berlama-lama dengan hawa dingin Air Conditioner didalam cafe ala persian ini. Sore menjelang, kami harus segera kembali ke penginapan, sembari mencari pulsa handphone di warung pinggiran dekat hotel. Maksud hati mampir di toko obat untuk masalah perut yang sedari pagi melilit, tapi ternyata toko ini juga menyediakan keperluan lainnya, bahkan untuk bisa mengisi ulang USB modem Reliance Card kami untuk pemakaian sebulan ke depan.

Menjelang gelap kami tiba, untungnya "mati listrik" disini sudah usai, terlebih lagi mereka telah menyediakan kamar kosong lainnya yang lebih bersih dan nyaman. Kenyang dengan beberapa brownis dan ice coffee di cafe tadi, kami memutuskan untuk tidak makan malam, dan beristirahat lebih cepat, menunggu agenda hari esok yang kelihatannya akan agak padat, berkeliling kota Agra, salah satu segitiga emas India.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 29 May, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/05/taj-mahal-tutup-hari-jumat.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar