Kamis, 02 Juni 2011

Bertualang dengan Kerang-kerangan

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!

Oleh: Sarie Febriane

(News Today)
- "Seafood" boleh dibilang santapan favorit sepanjang masa. Salah satu keluarga "seafood" yang memiliki penggemar fanatik adalah tiram ("oyster"). Meski populer dijadikan saus penyedap, tiram juga nikmat disantap dalam berbagai olahan masakan ataupun hidup-hidup. Sanggup?

Restoran yang mengkhususkan pada sajian tiram terbilang jarang di Jakarta. Di beberapa hotel berbintang di Jakarta, tiram biasanya tersedia dalam buffet. Dalam keluarga kerang-kerangan, tiram memang terbilang lebih mahal. Oleh karena itu, sulit menemukan warung seafood kaki lima yang menyajikan tiram, selain kerang-kerang jenis lainnya.

"Mereka yang penggemar fanatik oyster, sekali makan bisa puluhan ekor. Bahkan, minumnya hanya air putih supaya tidak mengganggu rasa tiram. Terakhir, baru minum white wine," kata Ahmad Sofyan, Executive Chef Oyster Resto and Bar, di Plaza Senayan, Jakarta.

Orang yang belum terbiasa menikmati oyster hidup-hidup biasanya akan memilih sajian tiram yang telah dimasak. Beberapa yang patut dicoba, misalnya nasi goreng oyster, salad oyster, dan oyster gratin. Cita rasa asli tiram yang sudah gurih membuat masakan kadang tak perlu lagi ditambahi garam.

Oyster gratin yakni tiram yang dipanggang dalam cangkang dengan tambahan berbagai macam topping. Salah satu yang bisa dicoba adalah oyster confucius, yakni tiram dipanggang dalam cangkang lalu ditutup dengan campuran daun ginseng yang dicincang halus dengan saus krim. Gurih dan creamy.

Nasi goreng tiram juga salah satu andalan di Oyster Resto. Biasanya nasi goreng sekadar ditambahi saus tiram untuk menambah cita rasa, kali ini yang digunakan justru daging tiramnya. Nasi goreng dari beras organik itu disajikan dalam bungkus dadar telur tipis, diperkaya irisan daging tiram, potongan wortel kecil-kecil, dan irisan cabai merah yang dibuang bijinya. Irisan daging tiramnya sekilas pandang mirip dengan irisan jamur shitake.

Sofyan mengatakan, pengunjung resto yang belum pernah atau belum berani memakan tiram hidup biasanya akan mencoba masakan yang menggunakan tiram, seperti oyster gratin atau nasi goreng tiram.

"Tapi kalau sudah merasakan oyster hidup, besok-besok pesannya yang hidup terus. Awalnya geli, setelah tahu enaknya, tambah," ujar Sofyan.

Tiram hidup biasanya dinikmati cukup dengan ditetesi jeruk lemon. Untuk tahu kesegaran sebuah tiram bisa dideteksi dari aromanya yang masih segar, cukup berair di dalam cangkangnya, dan dagingnya masih melekat sempurna di cangkang.

Setelah cangkang dibuka, tetesi tiram dengan jeruk lemon secukupnya, biasanya pinggiran daging tiram yang melekat akan perlahan terlepas di cangkangnya. setelah itu seruput sedikit airnya. Baru kemudian cungkil daging tiram dengan garpu dan langsung disantap. Sama sekali tak ada aroma amis, melainkan amat segar. Jangan ragu untuk mengunyahnya beberapa kali sebelum ditelan. Saat tiram meluncur di kerongkongan, aroma laut yang khas terendus kuat.

"Makan oyster bukan untuk kenyang, namun kenikmatan. Jadi menikmatinya sebaiknya jangan dalam keadaan terburu-buru," kata Sofyan.

Kerang dalam kwetiau

Selain tiram, penggemar kerang-kerangan juga bisa menikmati kerang dalam olahan yang berbeda, tak melulu berupa kerang rebus, sate kerang, dan kerang saus padang. Salah satu alternatif olahannya adalah kwetiau kerang.

Variasi kwetiau yang banyak dijumpai biasanya adalah kwetiau dengan daging sapi, udang, bakso ikan, ataupun cumi-cumi. Ada juga yang memadukan kwetiau dengan telur bebek seperti di Sumatera. Kali ini, kwetiau kerang bisa menjadi alternatif berbeda, apalagi jika Anda memang doyan dengan kerang-kerangan.

Restoran yang cukup populer dengan kwetiau kerang adalah Singapore Restaurant. Sejak berdiri tahun 1986 di kawasan Pluit, Jakarta Utara, restoran ini memang dikenal dengan sajian kwetiau kerangnya. Kini, resto tersebut juga hadir di Jalan Purworejo, Menteng, Jakarta Pusat, sejak tiga tahun lalu.

"Jadi, meskipun sekarang kami menyediakan aneka seafood, namun yang tetap dikenal ada kwetiau kerangnya," kata Wahyudi, pegawai restoran.

Kerang yang digunakan adalah jenis kerang darah (Anadara granosa). Dalam sepiring kwetiau, selain kerang, ada pula kucai, tauge, dan bakso ikan. Wahyudi mengatakan, seluruh bahan olahan dibuat sendiri, termasuk bakso ikan.

Padanan santapan kwetiau kerang yang cocok salah satunya adalah sup bambu. Sup yang bening ini bercita rasa gurihnya ikan dengan sayuran baby caisim. Satu porsi sup bambu cukup besar untuk dinikmati sendirian sehingga bisa berbagi setidaknya untuk dua orang.

Kerang dalam masakan kwetiau memberi sentilan rasa gurih yang khas. Oleh karena itu, Wahyudi meyakinkan tak perlu lagi menambah penyedap masakan instan. Secara umum, rasa yang menonjol adalah manis dan gurih. Jika dinikmati bersama acar timun yang asam, kwetiau kerang yang mengenyangkan jadi terasa lebih segar.

Mau pilih kerang-kerangan biasa atau tiram? Yang pasti keduanya sumber protein asal laut yang senantiasa punya penggemar setia....

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 03 Jun, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/06/bertualang-dengan-kerang-kerangan.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar