Selasa, 07 Juni 2011

Si "Bunga Emas" Hadirkan Euforia di China

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Beijing (News Today) - Keberhasilan Li Na mengukir sejarah dalam ajang tenis internasional seusai menjadi juara Perancis Terbuka, Sabtu (4/6/2011), mendapat sambutan luar biasa. Para pendukung olahraga di China melukiskannya sebagai sebuah "keajaiban" karena pemain berusia 29 tahun itu akhirnya menobatkan diri sebagai pemain pertama dari Asia yang menjuarai sektor tunggal sebuah grand slam.

Li, yang di China dikenal dengan sebutan "Big Sister Na" dan "Bunga Emas", merengkuh trofi di Roland Garros setelah di final menang straight set 6-4, 7-6 (7/0) atas juara bertahan dari Italia, Francesca Schiavone. Laga tersebut disaksikan oleh jutaan orang di China melalui layar televisi.

"Di tenis, orang China selalu sedikit berada di belakang, tetapi kami tetap bekerja keras dan hari ini untuk pertama kalinya kami memenangkan sebuah kejuaraan," ujar Song Qiaosui (30), yang bersama teman-temannya bersorak-sorai di sebuah bar olahraga di Sanlitun, Beijing, setelah Li Na meraih kemenangan.

Li sudah mulai menunjukkan bakal membuat kejutan ketika dia berhasil menembus final Grand Slam Australia Terbuka pada Januari lalu. Waktu itu, dia juga sudah mencatatkan diri sebagai petenis pertama dari Asia yang menembus final sektor tunggal sebuah grand slam, meskipun gagal menjadi juara. Langkahnya dihentikan oleh petenis Belgia, Kim Clijsters.

Akan tetapi, kurang dari enam bulan di Perancis, Li, yang berasal dari Wuhan, mengakhiri penantian terbesar sepanjang kariernya tersebut. Dia membuat Schiavone, juara tahun lalu, menjadi tak berdaya.

"Ini sebuah keajaiban, sebuah terobosan, pertama selama lebih dari 100 tahun tenis," ujar presenter stasiun televisi yang menyiarkan secara langsung pertandingan tersebut dengan terengah-engah ketika Li melakukan winning shot.

Bagi banyak anak muda di China, Li sudah menjadi seorang model. Dengan tekadnya yang kuat, senyum lebar, dan kemampuan berbahasa Inggris, dia menjadi simbol kepercayaan diri negara berkembang.

"Aku akan meneriakkan kemenanganmu dengan keras sampai suaraku serak! Anda layak mendapatkannya!" tulis Janefree Big Love di Weibo, situs microblogging yang populer di China.

Agen real estat Di Que, yang juga menonton di sebuah bar, mengatakan, dia telah memenangkan rasa hormat yang baru dengan kemenangan Li itu.

"Dulu saya sama sekali tidak memahami tenis, tetapi karena Li Na, saya telah jatuh cinta padanya (tenis)," ujar wanita berusia 26 tahun tersebut. "Saya berharap anakku akan bertumbuh dan mencintai tenis, dengan doronganku. Kami ingin tenis menjadi bagian dari kehidupan anak-anak muda China."

Olahraga dan politik masih menjadi hal yang "langka" di China. Pasalnya, hanya para atlet elite yang dikumpulkan dan dibina negara dari usia muda. Hanya segelintir orang yang diizinkan untuk mengembangkan kariernya.

Li, yang ketika masih kecil mempunyai potensi menjadi pemain bulu tangkis, membuat keputusan untuk mengubah haluan. Sebelum memasuki usia remaja, dia beralih ke tenis, dan terjun ke lapangan sebenarnya pada 2004, setelah meninggalkan kuliahnya di universitas.

Meskipun dalam perkembangannya dia menuai kesuksesan, termasuk menjadi orang pertama dari China yang meraih gelar WTA pada tahun 2004 dan yang pertama masuk perempat final grand slam di Wimbledon dua tahun kemudian, Li tetap menemui hambatan untuk membuktikan standar tenis China.

Setelah mengalami sejumlah polemik dengan media lokal dan otoritas tenis China atas rutinitas pelatihan dan pembayaran, pada tahun 2009 Li bersama empat pemain putri top lainnya diizinkan untuk mengelola karier sendiri alias menjadi profesional (tidak masuk pelatnas). Dengan demikian, mereka sendiri yang menanggung keuntungan dan kerugiannya.

Alhasil, kini Li menuai apa yang dicita-citakannya, yaitu merengkuh gelar juara grand slam. Dia hanya berharap, dengan kesuksesan tersebut, tenis akan semakin berkembang di China.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 07 Jun, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/06/si-bunga-emas-hadirkan-euforia-di-china.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar