Sabtu, 18 Juni 2011

Wajah Malioboro Dipenuhi Papan Iklan

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Suasana malam hari di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (29/5/2010). Kawasan wisata belanja kerajinan tangan dan kuliner ini bertambah padat pada saat hari libur nasional dan akhir pekan.

Yogyakarta, Indonesia (News Today) - Puluhan papan iklan dan baliho berukuran besar yang terdapat di depan bangunan-bangunan tua sepanjang Jalan Maliboro hingga Titik Nol Kilometer "menopengi" wajah asli kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan budaya itu.

"Di sepanjang Malioboro, ada lebih dari 50 bangunan tua, tetapi hanya ada 10 yang benar-benar masih memperlihatkan fasad atau muka bangunan aslinya. Selebihnya, wajah bangunan itu sudah tertutup papan iklan dan baliho berukuran besar," kata Kepala Seksi Pembinaan dan Pelestarian Nilai-nilai Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Widiyastuti di sela-sela Diskusi Malioboro sebagai Kawasan Budaya di Jogja Library Centre Yogyakarta, Selasa (14/6/2011).

Sejumlah bangunan yang masih memperlihatkan fasad asli di antaranya adalah bangunan yang kini menjadi Apotek Kimia Farma, bangunan pertama di ujung utara Jalan Malioboro yang kini dijadikan sebagai gudang dan juga Jogja Library Centre.

Menurut Widiyastuti, sebagian besar bangunan tua di sepanjang Malioboro tersebut tertutup oleh nama-nama toko. "Padahal, jika besar baliho nama-nama toko tersebut disesuaikan dengan fasad bangunan, maka justru akan terlihat lebih cantik dan menarik," katanya.

Kepentingan ekonomi yang berada di sepanjang Malioboro harus sejalan dengan kepentingan budaya dari suatu kawasan, terlebih Malioboro, masih menjadi tujuan utama wisata di Kota Yogyakarta. "Kami berharap di masa yang akan datang semua baliho nama toko atau jenis iklan lainnya tersebut tidak lagi menutupi wajah Malioboro," katanya yang akan terus melakukan sosialisasi kepada pemilik bangunan.

Sementara itu, Koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Madya yang bergerak di bidang budaya, Jhohannes Marboen, mengatakan, di sepanjang Jalan Malioboro seperti sedang terjadi perlombaan iklan. "Papan-papan iklan tersebut menutupi arsitektur asli bangunan di Malioboro, padahal bangunan bisa menggambarkan wajah dari sebuah kawasan," ujarnya.

Marboen menambahkan, arsitektur bangunan di sepanjang Malioboro juga sangat unik karena dipengaruhi oleh gaya arsitektur China, Jawa, dan Belanda. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan penataan terhadap kawasan Malioboro agar benar-benar menggambarkan citra Kota Yogyakarta.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharso mengatakan, pemerintah sudah memiliki aturan mengenai pemasangan papan iklan atau reklame. "Jika di kawasan Malioboro memerlukan konsep baru dalam pemasangan papan iklannya, tinggal mendiskusikannya dengan pakar, pemerintah, dan pelaku usaha di kawasan itu," katanya.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 18 Jun, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/06/wajah-malioboro-dipenuhi-papan-iklan.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar