Rabu, 18 Mei 2011

Korban Merapi dan Tasapot Mbok Luwih

Penjual bibit tanaman dan sayuran menyiapkan dagangannya untuk dijual ke petani di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (3/5/2010). Dengan rata-rata dijual Rp 2000 per 25 batang bibit tanaman, keberadaan penjual bibit tersebut cukup membantu petani menghemat waktu tanam.

(News Today) - Enam bulan setelah berlalunya rangkaian erupsi Gunung Merapi, Desember 2010, tampilan setiap rumah di Dusun Balong, Desa Wates, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pun berubah. Teras dan halaman belakang rumah yang biasanya dihiasi aneka bunga dan tanaman hias sekarang diisi oleh berbagai sayuran, yang semuanya ditanam dalam pot.

Tanaman sayuran lebih berguna karena bermanfaat, bisa dikonsumsi oleh keluarga, ujar Kristina Noviyani (26), warga Balong, Minggu (15/5/2011).

Maka, ranum merah cabai dan tomat pun menggantikan merah mawar yang semula ditanam di teras dan di tepi jendela kamar. Tidak hanya itu, tanaman sayuran pun mengisi setiap jengkal petak kosong dalam rumah yang sebelumnya hanya terpikir untuk tempat handuk atau kasur.

Semangat bertanam sayuran juga dirasakan di Dusun Berut, Desa Sumber, Kecamatan Dukun. Dengan keinginan untuk menanam sayuran dalam pot, maka semua pot, ataupun segala sesuatu yang dapat difungsikan sebagai pot, dijadikan sebagai tempat menanam sayuran.

"Karena kekurangan pot, bekas drum minyak tanah dan ember pun akhirnya saya pakai untuk menanam sayuran," ujarnya terkekeh.

Bagi Sukistinah dan Noviyani yang sebenarnya berprofesi sebagai petani sayuran, bertanam sayuran dalam pot jelas tak terpikirkan sebelumnya. Metode penanaman ini baru dikenalnya setelah mendapatkan pelatihan dari Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani dan Nelayan Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada Desember 2010. Saat itu mereka mendapatkan bantuan pot untuk menanam sayuran berikut benih-benih sayuran yang akan ditanam.

Pertanian organik

Tidak sekadar menebar benih dalam pot, mereka pun dilatih membudidayakan sayuran tersebut dengan sistem pertanian organik. Dari sinilah mereka dilatih membuat sendiri beragam obat-obatan untuk berbagai jenis hama penyakit.

"Lewat pembelajaran budidaya tanaman sayuran organik ini, saya baru tahu bahwa daun serai, tembakau, dan kleresede dapat diolah menjadi pestisida alami," ujarnya.

Awal mulanya, tanaman sayuran dalam pot ini memang sebatas dianggap sebagai pelipur lara, mengobati kesedihan petani karena lahan pertanian setelah erupsi belum berfungsi optimal untuk ditanami sayuran. Abu yang masih menumpuk di lahan pertanian membuat tanah bersifat panas, tanaman tidak tumbuh dengan baik, dan produksi sayuran turun sekitar 50 persen.

Namun, setelah beberapa kali memetik panen dari tanaman dalam pot, warga pun merasakan keuntungan yang lain, jauh dari sekadar pemenuhan kebutuhan pangan.

Sayuran dari hasil pertanian organik lebih sehat dan lebih enak. Kubis, misalnya, rasanya lebih manis, dan lebih kres, ungkap Sumarni, salah seorang warga Dusun Berut. Kres yang dimaksud untuk mengungkapkan cita rasa sayuran yang lebih renyah.

Di teras rumahnya, berdasarkan pembelajaran yang didapat, dalam setiap pot Sumarni menempatkan lebih dari satu jenis tanaman. Satu jenis tanaman, seperti cabai, menjadi tanaman utama dan di sekelilingnya ditanam tanaman lain yang lebih pendek, seperti seledri atau caisim. Setiap kali membutuhkan sayuran untuk makan, dia pun cukup memetik dari teras rumahnya.

Dengan berbagai pengalaman yang telah dilaluinya setelah lebih dari tiga kali panen, Sumarni pun terus ingin menanam sayuran secara organik, termasuk belajar membuat berbagai obat-obatan dari hama yang belum berhasil dikendalikannya. "Saya ingin terus belajar," ujarnya.

Hesti, pendamping warga dari Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani dan Nelayan Keuskupan Agung Semarang, mengatakan, sesuai dengan metode penanamannya, program budidaya tanaman sayuran dalam pot ini disingkat atau dikenal dengan Tasapot Mbok Luwih .

Tambahan embel-embel Mbok Luwih, yang dalam bahasa Jawa berarti "lebih banyak", ini sekaligus sebagai penanda atau pengingat bahwa program ini dilaksanakan setelah erupsi 2010, erupsi yang lebih besar, lebih mengerikan dibandingkan dengan erupsi sebelumnya. Mbok Luwih juga berarti sebuah harapan bahwa hasil yang diberikan dari tasapot akan memberi lebih banyak manfaat bagi masyarakat.

Melepas ketergantungan

Program budidaya tasapot yang dimulai dengan pemberian bantuan 5.000 pot kepada petani ini bertujuan membantu masyarakat di lereng Merapi agar setelah erupsi, mereka tidak terus-menerus bergantung mengharapkan bantuan.

Melalui program inilah, KAS juga ingin membantu mengembangkan pola pertanian masyarakat yang semula sangat tradisional berkembang menjadi pola budidaya yang lebih sehat untuk diri sendiri.

Mereka biasanya hanya meneruskan pola pertanian apa yang telah dilakukan orangtua dan nenek moyangnya. Menggunakan pupuk obat-obatan sekadar demi menggenjot hasil produksi yang banyak dan menghasilkan uang, dengan mengabaikan kesehatan tanah dan dirinya sendiri, ujarnya.

Dengan mengajarkan bercocok tanam di halaman rumah, masyarakat diharapkan belajar untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dari hasil pertaniannya sendiri.

"Selama ini, dengan orientasi mencari uang tersebut, petani kerap menjual semua hasil pertaniannya sehingga terkadang untuk konsumsi keluarganya sendiri dia terpaksa membeli," ujarnya.

Program tasapot ini, menurut dia, nantinya akan ditindaklanjuti KAS dengan memberikan bantuan kambing kepada anak-anak. Satu kelompok yang terdiri atas lima anak akan diberi lima kambing. Kambing ini dimaksudkan sebagai modal biaya pendidikan bagi anak-anak.

Proses pemeliharaan kambing ini nantinya sekaligus juga menjadi proses pendidikan bagi anak-anak untuk bertanggung jawab, jujur, dan belajar bekerja sama memelihara dan membesarkan kambing.

Maka, pascaerupsi Merapi yang mengerikan tahun lalu, Merapi pun memberikan kita kesempatan untuk terus belajar lagi....

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 19 May, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/05/korban-merapi-dan-tasapot-mbok-luwih.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar