Rabu, 25 Mei 2011

Ligwina, Selalu "Ngurusin" Duit

(News Today) - Saya ingin jadi pengusaha wanita yang mengurusi uang orang. Itulah kalimat yang terucap oleh Ligwina Poerwo-Hananto, founder PT Quantum Magna, sebuah perusahaan penyedia jasa perencana keuangan, ketika ditanya mengenai pekerjaan apa yang diingininya selepas masa studi berakhir.

"Waktu SMU, saya pernah diinterview sama majalah sekolah. Dan, waktu ditanya saya jawabannya saya pingin jadi business woman yang ngurusin duit orang. Padahal saya nggak tahu ada profesi itu," ungkap Ligwina kepada Kompas.com, usai menjadi pembicara dalam acara "Women in Business Prospective 2011 ," di Jakarta, Jumat ( 20/5/2011 ).

Pekerjaan itu sebenarnya tidak jauh-jauh dari pengalamannya yang sering menjadi bendahara sewaktu masa studi. "Saya pernah bekerja di bank, lalu pindah ke agensi. Tetap yang diurusin duit gitu," sebut perencana keuangan independen yang meraih gelar sarjana dari Curtin University of Technology jurusan finance dan marketing ini.

Dulu, lanjut wanita yang kerap tampil di televisi ini, tidak ada yang namanya profesi perencana keuangan. Profesi ini baru muncul di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Profesi ini pun tidak serta merta ia tekuni langsung setelah lulus dari studi strata satunya. Justru ketika ia sedang berperan menjadi ibu rumah tangga, ibu beranak satu ini kemudian berpikir menjadi perencana keuangan. "Ternyata waktu ngobrol sama teman, sama keluarga, saudara, ternyata saya bisa menerangkan keuangan dengan sangat ringan. Dan mereka senang," sebutnya.

Dengan dorongan suaminya, ia pun melanjutkan studinya ke jenjang pasca-sarjana di IPMI Business School jurusan MBA Investment Management. Dilanjutkan dengan sejumlah program singkat, di mana dengan itu ia mendapatkan sertifikat financial planner hingga wealth manager. "Tahun 2003, baru saya buka praktek," ungkap wanita yang sebelumnya pernah mencoba bisnis garmen baju muslim, hingga sarung bantal ini.

Setelah menjalani sejumlah studi terkait perencana keuangan, itu pun tidak menjamin kesuksesan dalam menjaring klien. "Waktu itu kita kirim sms ke 100 orang, yang balas empat orang, dan hanya satu orang yang jadi klien," ungkap sembari tertawa.

Oleh karena rasa senang dan keseriusan, ia tetap berjuang untuk tetap mengembangkan usahanya tersebut. "Saya nggak mau ini hanya firma kecil yang isinya hanya tiga orang, yang akhirnya cuma jadi perencana keuangan," katanya.

Karenanya, perusahaan pun tidak dinamakan berdasarkan nama dirinya. Dengan maksud, ia akan mempunyai tim sehingga tidak bekerja sendiri. "Yang kelihatan keluar memang kelihatannya cuma saya. Tapi, sebetulnya di belakang layar itu ada satu tim yang sangat solid," tuturnya.

Mengenai usaha perencana keuangan, ia menyebutkan usaha ini belum ada pada masa ia memulainya. Saat itu, ia menyebutkan sudah ada sejumlah seminar mengenai bagaimana merencanakan keuangan.

Namun, lanjut dia, seminar tidak efektif. Dengan jasa perencana keuangan, klien akan dibuatkan rencana keuangannya dan akan terus diingatkan apakah sudah mempraktikkannya atau belum.

Kesulitan dalam menjaring klien menjadi hambatan baginya. Mengingat tidak mudah meyakinkan masyarakat untuk mau menjadi klien. Ia mengumpamakan, seorang dokter yang dipercaya, tentu harus mempunyai banyak pasien. "Siapa sih kamu mau jadi perencana keuangan saya, kalau tidak punya kredibilitas," ucapnya.

Oleh karena itu, ia pun memulainya dengan menjadikan keluarga dan teman dekat sebagai kliennya. Setelah itu, ia pun mencari alternatif jalan untuk mengejar kredibilitasnya, yaitu dengan membuat program keuangan melalui siaran radio di Hard Rock FM. "Karena dulu belum ada online media, maka radiolah yang paling kuat," ungkapnya.

Sekarang, sebutnya, perencana keuangan independen telah berkembang pesat. Bahkan telah mempunyai klub IFPC (Independent Financial Planner Club), yang menaungi 11 firma. "Ini menunjukkan sudah ada minat orang mau jadi perencana keuangan independen," katanya.

Ia menambahkan, perencana keuangan independen ini berarti tidak bergantung sama produk. Sehingga tidak ada conflict of interest seperti halnya perencana keuangan yang dependen, yang biasanya mempunyai target penjualan produk.

Mencari seorang perencana keuangan pun termasuk kendala lainnya. "Kita harus cetak sendiri dari nol. Tidak ada planner tersedia," cetus dia.

Ia mengatakan, seseorang yang berkerja di bank sekian tahun belum tentu bisa menjadi perencana keuangan. Mengingat profesi ini menuntut ilmu finansial yang luas, mulai dari bank, saham, dan lainnya. "Tugas kita itu adalah memberikan edukasi ke masyarakat. Jadi luas sekali sebetulnya," tambahnya.

Maka, ia pun tidak membatasi bisnisnya sebagai perencana keuangan. Ia menyebut bisnisnya sebagai bisnis yang mempromosikan wawasan finansial.

Source : kompas

noreply@blogger.com (News Today) 26 May, 2011


--
Source: http://www.newsterupdate.com/2011/05/ligwina-selalu-ngurusin-duit.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar